Jokowi: Laut Kita Terancam, Butuh Tindakan Nyata!

IndonesiaHerald.com, Yogyakarta -  Presiden Joko Widodo mengatakan saat ini semakin banyak negara di internasional yang menyadari Illegal Unreported and Unregulated (IUU) Fishing adalah kejahatan transnasional yang dampaknya di dunia luar biasa. Dampak negatif di industri perikanan saja yang juga mencakup masalah lingkungan.

"Lautan kita yang menutupi 71% permukaan bumi terancam keberlanjutannya dengan adanya praktik IUU Fishing," kata Jokowi saat membuka The 2nd International Symposium on Fisheries Crime 2016 atau Simposium Internasional kedua Kejahatan Perikanan, di Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta, Senin (10/10/2016).

Padahal, lanjut Jokowi, laut adalah sumber pendapatan bagi 520 juta penduduk dunia dan sumber pangan bagi 2,6 miliar orang. Praktik IUU Fishing telah mengurangi stok ikan dunia sebesar 90.1%.

Dia mengatakan illegal fishing juga terkait dengan kejahatan lain seperti penyelundupan barang dan manusia, buruh ilegal, penyelundupan narkoba, dan pelanggaran terhadap peraturan perlindungan alam dan kebersihan. Artinya, IUU Fishing telah berkembang menjadi kejahatan transnasional yang sangat serius dan terorganisir.

"Bila IUU fishing terus dibiarkan merajalela, maka bumi ini, tempat tinggal kita bersama, akan terancam keberlanjutannya," kata Jokowi.

Menurutnya sangat penting bagi Indonesia untuk memerangi kejahatan transnasional yang terorganisasi tersebut dengan kolaborasi global.

Dia menegaskan Indonesia tidak bisa mendiamkan persoalan IUU Fishing. Pada tahun 2014, FAO menyatakan Indonesia sebagai peringkat kedua produsen terbesar di dunia untuk ikan laut dengan jumlah tangkapan 6 juta ton atau setara dengan 6,8% dari total produksi dunia untuk ikan laut.

"Kita yakin bahwa angka-angka itu masih di bawah potensi maksimal Indonesia karena masih ada praktik IUU Fishing," katanya.

Menurutnya illegal fishing telah mengakibatkan kerugian ekonomi Indonesia sebesar 20 miliar dollar Amerika per tahun. 20 miliar dollar Amerika per tahun itu juga mengancam 65% terumbu karang di Indonesia.

Oleh karena itu, dalam 2 tahun terakhir Indonesia terus menjaga, berusaha mengamankan dari praktik IUU Fishing seperti penangkapan dan penenggelaman 236 kapal pencuri ikan.

Dari hasil mulai terlihat, tingkat eksploitasi ikan di Indonesia mengalami penurunan antara 30-35% sehingga memungkinkan kita meningkatkan stok nasional ikan dari 7,3 juta ton di tahun 2013 menjadi 9,9 juta ton di tahun 2015.

Selain itu dari bulan Januari sampai Juni 2016 ada peningkatan ekspor sebesar 7,34% dari produk perikanan Indonesia jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015.

"Kita tidak cepat berpuas diri dan ingin terus belajar dari negara-negara lain dalam melawan IUU Fishing sekaligus kita akan dengan senang hati berbagi pengalaman Indonesia kepada negara-negara lain, negara-negara sahabat kami yang baik," pungkas dia. 

Subscribe to receive free email updates: