Mereka yang "Galau" karena Terhempas di Pilgub DKI

IndonesiaHerald.com, Jakarta - Sederetan nama cagub DKI Jakarta terhempas setelah KPU DKI Jakarta menutup pendaftaran di Pilgub DKI Jakarta. Namun, mereka berlapang dada setelah diputuskan hanya ada 3 pasang calon yang maju bertarung memperebutkan kursi DKI-1.

Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra, mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli, Wakil Ketua DPRD DKI Abraham 'Lulung' Lunggana dan Adhyaksa Dault merupakan deretan nama-nama cagub yang sempat digadang-gadang partai politik maupun yang berniat maju non parpol.

Seiring waktu, nama-nama mereka tersingkir menyusul didaftarkannya tiga pasangan cagub cawagub DKI Jakarta tangguh ke KPUD DKI Jakarta.
Meski pencalonannya gagal, para cagub ini berlapang dada menerimanya dan berharap Pilgub DKI Jakarta 2017 melahirkan pemimpin yang mampu memperbaiki wajah Jakarta dan berjuang mensejahterakan warga Ibu Kota.

1. Rizal Ramli: Kurang Modal Finansial

Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli menyampaikan ucapan terima kasih dan mohon maaf kepada pihak-pihak yang disebutnya sebagai pendukung karena gagal maju dalam Pilgub DKI Jakarta 2017.

"Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada lebih dari 50 organisasi masyarakat yang membujuk, berdoa dan berjuang untuk kita bersama-sama mengubah Jakarta menjadi lebih manusiawi, tanpa tangisan, lebih adil dan lebih asyik," ucap Rizal Ramli dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/9/2016).

"Saya mohon maaf atas berbagai salah kata dan salah tindakan, juga kesalahan saya yang terlalu mengandalkan modal sosial dan kurang memahami bahwa modal finansial sangat menentukan di era demokrasi liberal yang padat modal ini. Ketergantungan itu membuat politik semakin pragmatis dan menjauh dari kepentingan rakyat," ujar Rizal.

Meski begitu, Rizal merasa bersyukur karena apapun telah dikerjakan untuk kemakmuran bersama, dilakukan dengan kehormatan dan integritas (with honor and integrity). Rizal juga bersyukur bahwa dinamika ini membuka kesempatan untuk memperjuangkan nilai-nilai, misi dan program untuk kesejahteraan bersama.

2. Yusril: Politik Bukan Permainan Kekuasaan

Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra tak jadi maju Pilgub DKI Jakarta karena tak ada parpol yang mengusungnya. Yusril pun meminta maaf ke para pendukungnya.

"Kita tetap harus sabar dalam berjuang, dengan mengorbankan apa saja yang perlu dikorbankan. Politik bukanlah sebuah permainan kekuasaan dengan menonjolkan kepentingan sesaat, tetapi sebuah pengabdian yang tulus kepada rakyat, bangsa dan negara untuk memajukannya," kata Yusril saat dihubungi, Jumat (23/9/2016).

Mantan Menteri Kehakiman ini kemudian meminta maaf kepada para pendukungnya. Ia mengaku mengambil hikmah dari perjalannya menuju Pilgub DKI yang kandas di tengah jalan.

"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas segala bantuan, pengorbanan dan dukungan yang datang dari begitu banyak orang dalam proses pencalonan gubernur DKI Jakarta ini. Saya mohon maaf pula, jika saya telah mengecewakan para pendukung karena ketidakberhasilan saya maju sebagai calon. Saya memetik hikmah dan sekaligus introspeksi atas semua yang terjadi," pungkasnya.

Yusril Ihza Mahendra mengucapkan selamat atas deklarasi pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Dia belum bisa memastikan apakah akan memberi dukungan atau tidak. Yusril mengatakan akan mengkaji lebih dalam peta kekuatan politik serta visi misi yang ditawarkan para pasangan ini untuk masyarakat Jakarta.

"Apabila pasangan ini hanya dipasang asal pasang saja supaya petahana tidak melawan kotak kosong, sekiranya di balik ini ada hal bersifat transaksional saya tidak akan pernah bersedia memberikan dukungan," tegasnya.

3. Lulung dan Nyanyian 

Wakil Ketua DPRD DKI Abraham 'Lulung' Lunggana gagal diusung PPP di Pilgub DKI Jakarta. Dia rela memberikan tiketnya kepada siapa pun yang maju melawan Ahok.

"Kalau saya tidak dicalonkan, saya akan tetap bersama-sama kepada orang yang menjadi rival sama Ahok," ujar Lulung saat dihubungi detikcom, Sabtu (30/7/2016).

Tidak hanya kritikan pedas, Lulung pun punya nyanyian yang ditujukan untuk Ahok. "Saya mau nyanyi nih, dengerin ya!" ujar Lulung.

Dengan cengkok khas dangdut, Lulung pun berdendang. Begini lirik lagunya:

Pagi sore kita berjuang
Di malam hari kita berdoa
Satu hati Bangsa Indonesia
Untuk menjaga Tanah Air kita
Indonesia pasti menang
Indonesia pasti menang
Ahok harus kita tumbangkan
Ahok harus kita lengserkan
Ahok harus kita pulangkan
Ahok harus kita kalahkan

4. Adyaksa Dault: Indepeden

Adhyaska Dault menegaskan dirinya tidak mau untuk mendaftar ke partai politik untuk maju kecuali dirinya memang dipanggil oleh partai tersebut.

Dalam pandangan Adhyaksa, menjadi gubernur itu adalah menjadi pemimpin bukan penguasa. Pemimpin, kata Adhyaksa, seharusnya maju atas dasar memang punya kapabilitas untuk membangun Jakarta bukan karena untuk mencari kekuasaan. "Tapi kalau mendaftar-mendaftar itu kaya seperti penguasa. Ya ini kan zaman reformasi mungkin lagi digandrungi kaya Indonesian idol kaya Jakarta Idol gitu, tapi saya tanpa mengurangi rasa hormat tidak akan maju lewat mendaftar ke partai seperti itu," kata dia.

Adhyaksa mengaku pernah sekali dikirimi formulir pendaftaran calon gubernur DKI dari salah satu partai politik. Namun, Adhyaksa gagal mengembalikan formulir tersebut karena sedang ada urusan di luar negeri.

"Waktu itu pernah ada partai Demokrat pernah mengirimkan formulir ke rumah, saya isi tapi tidak saya kembalikan kebetulan saya sedang ke luar negeri sedang ke Belanda, setelah pulang ternyata sudah tutup, ya sudah," tutur dia.

Adhyaksa menggarisbawahi, Ia tidak akan memaksakan diri jika sampai bulan Juli relawan tidak memenuhi target 200.000 KTP yang dicanangkannya.

5. M Idrus dan Rp. 1 Miliar untuk RW

PKS memasukkan nama Muhamad Idrus sebagai salah satu bakal calon gubernur yang akan diusung. Namanya disandingkan dengan Sandiaga Uno, Adhyaksa Dault, Yusril Ihza Mahendra, Anis Matta, dan Triwisaksana sebagai calon penantang Ahok. Namun, Idrus akhirnya gagal setelah PKS resmi mengusung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Idrus adalah pria asli Jakarta. Dia lahir 28 Maret 1978 di kawasan pesisir di Cilincing, Jakarta Utara. "Saya lahir dan besar di Jakarta. Tergantung prasangka kita. Jangan remehkan orang Jakarta, Jangan remehkan wong cilik," kata Idrus saat berbincang dengan detikocm, Senin (11/3/2016).

Idrus mantab untuk maju dalam pertarungan politik pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 dari PKS. Idrus yakin, berbekal pengalaman dan sikap positif yang selalu ia terapkan dalam hidup, akan mengantarkannya sukses menghadapi pesta demokrasi warga Ibu Kota. Dia tahu bahwa lawan-lawan politik yang akan ia hadapi dalam Pilgub DKI 2017 cukup berat.

"Kita berdoa takdir yang terbaik. Napoleon pernah bilang, kalau nggak bisa, belajar. Kalau nggak tahu, tanya. Kalau nggak mungkin, coba," imbuh Idrus yang menjual program bersih-bersih 1.000 masjid ini.

Idrus menjanjikan program dana untuk Rukun Warga (RW) di DKI Jakarta sebesar Rp 1 miliar per tahun. "Program Jakarta Keren ke depan akan memberikan Rp 1 miliar per tahun untuk 1 RW di mana gunanya untuk menggerakkan dan mengakselarasi ekonomi masyarakat agar mandiri mengelola keuangannya serta mengajak untuk mendirikan 1 Rukun Warga (RW) 1 Koperasi," sambungnya.

6. Hasnaeni 'Wanita Emas'

Hasnaeni Moein "Wanita Emas" pernah mendaftar menjadi cagub DKI Jakarta ke DPP PPP. Namanya terpental setelah PPP memutuskan bergabung dengan Partai Demokrat, PAN dan PKB yang mendukung pencalonan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni.

Dia pernah menjajaki untuk berduet dengan Lulung. Hasnaeni menambahkan apabila nantinya dirinya terpilih untuk memimpin Jakarta bersama Lulung, dirinya akan menjadi pemimpin yang santun namun tegas tanpa menyakiti hati masyarakat. Karena menurutnya kedekatan dengan masyarakat dapat dilakukan tanpa mengeluarkan kata-kata kasar.

"Tentu kan partai akan melihat kandidat mana yang diusung. Dan yang paling bisa diusung adalah sosok yang bisa menyatu dengan masyarakat. Jangan sampai kita terlalu jauh dengan mereka, kalau terlalu jauh kita tidak akan bisa apa-apa. Saya kira menjadi pemimpin yang tegas tidak perlu berkata kasar dan menyakiti perasaan masyarakat. Memang Jakarta ini keras, namun masyarakat butuh pemimpin yang dapat mengayomi," jelasnya diplomatis. (Sumber: detik.com).

Subscribe to receive free email updates: