Menginjak "Remaja" Demokrat Belum Bisa Lepas dari "Dekapan" SBY

IndonesiaHerald.com, Jakarta - Partai Demokrat memasuki usia ke-15 tahun pada hari ini, Jumat (9/9/2016).

Perjalanan panjang dilalui partai ini sejak berdiri pada 9 September 2001.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan, berbagai hal dilakukan untuk menjadi partai modern.

Demikian pula upaya untuk lepas dari bayang-bayang dan nama besar Susilo Bambang Yudhoyono.

Ya, Demokrat memang kerap diidentikkan dengan SBY, yang pada hari ini juga berulang tahun ke-67.

Selama 2 periode pula, Demokrat "mengawal" SBY yang menjabat presiden pada 2004-2009 dan 2009-2014.

Hinca tak menampik kesan bahwa Demokrat adalah SBY.

"Tidak ada kesengajaan dari kami untuk menyamakan tanggal lahir Demokrat dengan tanggal lahir Pak SBY, ketua umum kami. Toh partai Demokrat berdiri sejak 2001 dan itu menandakan ada proses sebelum pencalonan Pak SBY di Pilpres 2004," kata Hinca, pada syukuran HUT ke-15 Demokrat, di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Jumat (9/9/2016).

Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan.

Ia tak menyangkal bahwa faktor ketokohan SBY turut berkontribusi pada perkembangan Partai Demokrat.

Bagi Syarief, jika diibaratkan dengan mata uang, SBY dan para kader Demokrat merupakan dua sisi yang tak terpisahkan.

Ketokohan SBY

Hinca mengatakan, partai di Indonesia memang masih membutuhkan ketokohan yang kuat, demikian pula Demokrat.

"Meski sebenarnya anggapan bahwa Demokrat partainya Pak SBY terlalu salah. Pak SBY adalah satu dari batu bata yang membangun Demokrat, begitu pula saya dan para kader lain," ujar Hinca.

Kini, kata Hinca, Demokrat tengah berupaya keluar dari anggapan tersebut, tanpa melupakan jasa SBY yang telah membesarkan partai.

"Kami lewat kader-kader di daerah kini mencoba turun langsung memperkenalkan diri bahwa Demokrat bukanlah partainya Pak SBY. Tentu tanpa melupakan jasa besar Pak SBY dalam membangun Partai Demokrat," kata Hinca.

Bagi Demokrat, berada di luar koalisi pendukung pemerintah, membuat mereka leluasa berimprovisasi mengubah citra.

"Kalau dulu sepuluh tahun di pemerintahan dan pas saya bertugas di divisi komunikasi publik, ibarat bertinju. Rasanya tiap bicara saya dipukuli terus dan tak bisa balas memukul. Sekarang di luar pemerintahan justru kami bisa memukul dengan cara-cara yang pas, itu indahnya," papar dia.

Ia mengatakan, pekerjaan rumah terbesar Demokrat saat ini adalah menjadi partai modern yang tak ingin bergantung pada satu tokoh besar saja. (Sumber: Kompas.com). 

Subscribe to receive free email updates: