Kisah Pilu Korban Prostitusi Anak Korban Gay di Puncak Bogor. Tragis!

IndonesiaHerald.com, Jakarta - Anak-anak korban prostitusi untuk kaum gay kini menjalani pemulihan kejiwaan. Dari hati ke hati, mereka bercerita tentang kehidupannya yang merindukan kebahagiaan.

Ada 7 anak korban prostitusi untuk gay yang diamankan Bareskrim Polri saat penggerebekan di hotel di Puncak Bogor. Anak-anak itu lalu dibawa ke rumah perlindungan anak Kemensos. Tim Kemensos dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus menggali latar belakang para korban hingga termakan bujuk rayu, AR, tersangka kasus prostitusi anak untuk kaum gay.

Lewat akun Facebook berjudul 'Berondong Bogor' ini AR menjajakan anak-anak itu dengan tarif Rp 1,2 juta untuk short time. Namun, ada juga pelanggan yang memesan anak untuk seharian. Tarifnya mencapai Rp 10 juta. Dari jumlah itu, AR hanya memberikan uang kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu ke anak-anak itu. 

Baca: Polisi Serobot Dialog RRI Wamena, Kebebasan Pers Terancam?

Setelah digali, mayoritas anak korban prostitusi untuk gay berasal dari keluarga yang kurang mampu di Jawa Barat. Mereka mengaku angkat kaki dari rumah orang tuanya karena kecewa tidak menemukan kehangatan dalam keluarga. 

Para korban kemudian menjelaskan apa latar belakangnya mereka bisa mengenal pelaku.

"Saya tanya, bagaimana mereka tinggal selama ini? Rupanya mereka kontrak bersama anak-anak 15-16 tahun. Mereka jauh dari keluarganya. Akhirnya mereka diajak untuk melakukan itu. Intinya ke tujuh anak ini mereka menginginkan ada kebahagian di rumah mereka," papar Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

"Ada yang menyampaikan, misalnya, sampai umur 13 tahun dia bahagia, rumahnya seperti surga, setelah itu di rumah itu sering berantem. Setelah itu tidak ada orang di rumah yang mau mendengarkan dia. Sampai suatu saat ada yang mau mendengarkan keluhan dia dan mengajak dia dan seterusnya," sambung dia.

Baca: Ada Sayembara Berhadiah Puluhan Juta Rupiah Untuk Temukan 2 Pembunuh Ini

Namun Mensos memastikan para korban tersebut sudah ditangani secara baik oleh para psikolog di rumah perlindungan Kemensos.

Anak-anak ini saat diperiksa tim kesehatan juga banyak bertutur mengenai apa yang terjadi pada mereka. Dengan gaya kemayu, mereka bertutur kalau awalnya hanya ikut dengan teman. Anak-anak ini memang ikut dalam sebuah komunitas. Dari komunitas itu AR merekrut dan menawari pekerjaan melayani pria gay.

Sekali memberikan layanan, mereka mendapatkan imbalan Rp 150 ribu. Sudah setahun AR menjalankan bisnis haramnya lewat facebook.

"Uang itu mereka gunakan untuk jajan, biaya kebutuhan," terang seorang petugas yang tak mau disebut namanya, Kamis (1/9/2016).

Ada tujuh anak yang sudah dalam penanganan. Orangtua anak-anak ini juga sudah dipanggil dan semua orangtua tidak tahu kalau anak-anaknya menjadi pelaku prostitusi untuk gay.

Dari tujuh anak yang berhasil diselamatkan, sebagai besar merupakan anak dari keluarga tidak mampu.

"Mungkin kebutuhan ekonomi, dari gadget, dan lain Lain. Mereka kebanyakan dari keluarga enggak mampu. Keluarga enggak mengetahui," kata Kabareskrim Komjen Pol Ari Dono Sukmanto dalam jumpa pers usai pertemuan tertutup dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di Gedung Bareskrim, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/8/2016). 

Ari menjelaskan, tujuh korban itu saat ini sedang dibawa ke pihak medis untuk penanganan kesehatan, cek darah dan lainnya. (Sumber: detik, com).

Subscribe to receive free email updates: