Waspada! 71 Tahun Indonesia Merdeka, Kelompok Radikal Masih Terus Merongrong NKRI

Mayat-mayat berserakan dan hanya ditutupi koran pasca meledaknya sebuah bom di sebuah rumah sakit di Quetta, Pakistan, Senin (8/8/2016). Foto oleh kompas.com
IndonesiaHerald.com, Pakistan - Pada hari ini kelompok-kelompok radikal masih bercokol di bumi pertiwi. Mereka menikmati kebebasan untuk menyebarkan paham-paham keagaamaan yang tidak mentoleransi adanya perbedaan keyakinan dalam masyarakat Indonesia. Sebagai akibatnya, keragaman budaya dan agama di Indonesia masih berada dalam belenggu penjajahan kelompok-kelompok radikal.

Apa jadinya jika pemerintah Indonesia tidak mengambil sikap tegas terhadap mereka? Bersiap-siaplah, keadaan mengerikan yang terjadi di Pakistan berikut ini pun kemungkinan besar juga akan sering terjadi di Indonesia.   

Duh Kejamnya, Rumah Sakit Pun Dibom

Sebuah bom bunuh diri yang dilengkapi dengan sejumlah pelor di dalamnya, meledak di sebuah rumah sakit di Quetta, Pakistan, Senin (8/8/2016).

Ledakan itu menyebabkan setidaknya 70 orang tewas.

Sejumlah saksi mata mengatakan, suasana mencekam terlihat pasca ledakan. Para staf yang selamat berlarian menembus asap hitam sisa ledakan dan mencoba menyelamatan korban yang terluka. 

Pelaku serangan bom bunuh diri ini menyerang di tengah sekitar 200 orang yang berkerumun di RS umum Provinsi Balochistan.

Berdasarkan keterangan otoritas setempat, diperkirakan ada 100 orang yang terluka akibat serangan ini. 

Sebuah rekaman video menunjukkan gambar mayat-mayat yang bergelimangan usai serangan bom.

Beberapa di antara jasad terlihat masih berasap, di tengah genangan darah dan pecahan kaca. Pemandangan itu angat memilukan bagi para korban yang selamat.

Wartawan Kantor Berita AFP  yang melansir kejadian ini dilaporkan berada hanya 20 meter dari lokasi ledakan. 

"Yang muncul pertama kali seusai ledakan adalah kepulan asap hitam yang kotor," kata jurnalis itu. 

"Saya langsung berlari dan melihat sekian banyak mayat terbujur di lantai, dan banhyak pula yang menangis karena terluka. Sungguh lokasi ledakan itu menjadi kolam darah yang dipenuhi jasad dan potongan tubuh manusia," urai dia.

Pervez Masi, salah satu korban yang terluka akibat pecahan kaca, ledakan terasa amat keras, dan mereka tak langsung menyadari apa yang terjadi. 

"Sekian banyak kawan saya menjadi martir. Mereka yang melakukan serangan ini bukan manusia, mereka binatang yang tak punya hati," kata Masi.  

Pihak kepolisian setempat langsung mengonfirmasi kabar tentang ledakan itu. 

"Pelaku ledakan setidaknya membawa bom seberat delapan kilogram yang dikemas dengan pelor," kata Kepala petugas penjinak bom Abdul Razzaq.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Pelaku Utamanya Adalah Taliban

Sebuah faksi Taliban di Pakistan, Jamaatul Ahara, mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di sebuah RS di Provinsi Balochistan, Senin (8/8/2016).

Seperti yang diberitakan, serangan yang terjadi di antara kerumunan orang yang memadati RS tersebut menewaskan setidaknya 70 orang dan melukai ratusan lainnya.

Jurubicara Jamaatul Ahara, sebuah organisasi yang berada di bawah naungan Tehreek-e-Taliban di Pakistan, menyampaikan pernyataan melalui surat elektronik kepada media.

Seperti diberitakan AFP, faksi ini mengaku bertanggungjawab atas serangan di dekat Kota Quetta.

Talibanisasi Indonesia

Sampai dengan menjelang tibanya Hari Kemerdekan RI Ke 71 Tahun 2016 ini, kelompok-kelompok radikal di Indonesia terus berupaya menjadikan Indonesia sebuah negara Islam semacam Pakistan. Upaya-upaya yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal ini disebut dengan istilah Talibanisasi Indonesia.

Pada akhirnya, hasil akhir Talibanisasi Indonesia adalah berbagai bentuk konflik sektarian dan aksi-aksi kekerasan/terorisme yang akan merenggut ribuan nyawa warga negara Indonesia. 

Direktur Eksekutif Maarif Institut, Fajar Riza Ul Haq menilai saat ini gejala Talibanisasi Indonesia masih terus berlangsung. Menurutnya upaya-upaya Talibanisasi Indonesia ini sudah pada taraf mengkhawatirkan sampai-sampai segenap elemen bangsa Indonesia pun harus mewaspadainya. 

"Kita patut mewaspadai munculnya gejala Talibanisasi yang akan mengkerdilkan mozaik ke-Islaman di Indonesia," kata Fajar saat peluncuran buku Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia, di PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat. 

Menurutnya, gejala munculnya Talibanisasi di Indonesia ditandai oleh munculnya peraturan yang mengharamkan tarian daerah yang dilakukan oleh wanita dewasa, larangan bagi perempuan untuk mengendarai sepeda motor dengan cara mengangkang, bahkan pelaksanaan hukum cambuk.

"Kebijakan seperti ini didasarkan pada model penafsiran syariat Islam yang sempit dan monolistik, sehingga menciptakan diskriminasi bagi perempuan di ranah publik," tandasnya.

Seperti diketahui, setelah 15 tahun era reformasi bergulir, banyak muncul gerakan sosial keagamaan yang cenderung intoleran. Rupanya arus demokratisasi yang kebablasan di Indonesia telah menyebabkan paham keagamaan intoleran tersebut tumbuh subur.

Undang Undang Penanganan Ujaran Kebencian (Anti Hate Speech)

Untuk menangani maraknya penyebaran ideologi dan praktek-praktek intoleransi, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. 

Dr. Azyumardi Azra, yang merupakan mantan Guru Besar dan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, menyarankan perlunya penyusunan, pengesahan dan pemberlakukan UU tentang Penanganan Ujaran Kebencian. Tetapi, nampaknya berbagai pihak terkait kurang peduli terhadap masalah ini sampai kemudian Polri mengambil inisiatif dengan menerbitkan Surat Edaran Kapolri No SE/06/X/2015 tentang penanganan ‘ujaran kebencian’ (hate speech) di ranah publik.

Sampai hari Selasa, (9/8/2016) ini Indonesia belum memiliki UU Penanganan Ujaran Kebencian. Jika keadaan ini terus berlanjut, kelompok-kelompok radikal tidak akan memiliki hambatan yang berarti dalam menjalankan proyek Talibanisasi Indonesia mereka. (kompas/sindonews/republika/IH-080916).






Subscribe to receive free email updates: