Polisi Serobot Dialog RRI Wamena, Kebebasan Pers Terancam?

Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba
IndonesiaHerald.com, Jayapura - Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba membantah anggotanya yang berinisial Bripda DT tidak memiliki izin sebelum memasuki ruang dialog Interaktif yang diselenggarakan di RRI Wamena, Jumat (26/8/2016) lalu.

Sebelumnya, DT bersama salah seorang temannya yang berpakaian preman memasuki ruang dialog interaktif antara penyiar RRI Wamena dan organisasi Forum Masyarakat Jayawijaya dan Sepegunungan Tengah Papua (FMJ-PTP) serta Yayasan Teratai Hati Papua di Wamena pada Jumat (26/8/2016) lalu sekitar pukul 16.16 WIT.

Sementara, salah seorang rekan DT yang berpakaian preman langsung memotret DT yang berdiri di belakang para narasumber. Kedua oknum tersebut langsung meninggalkan ruangan itu sekitar lima menit kemudian.

Adapun tiga narasumber yang dihadirkan dalam dialog dengan mengangkat tema Sang Inspirator, yakni Ketua FMJ-PTP Mully Wetipo, Sekretaris FMJ-PTP Yance Itlay, dan Ence Geong selaku fasilitator Yayasan Teratai Hati Papua.

Yan saat ditemui di Jayapura, Papua, pada Rabu (31/8/2016) mengatakan, DT bertugas menjaga keamanan dan melaporkan seluruh kegiatan masyarakat yang terselenggara di setiap objek vital milik negara selama 1 x 24 jam. Salah satunya adalah kantor RRI Wamena.

“Kami telah mengklarifikasikan terkait masalah ini dengan pihak RRI Wamena dan narasumber yang menghadiri dialog interaktif itu. Anggota kami pun telah meminta izin sebelum memasuki ruangan itu,” kata Yan.

Ia pun menyatakan, tak ada intervensi dari pihak kepolisian atas kebebasan pers di Wamena.

“Kami hanya menjalankan tugas setiap hari. Tujuannya tak ada penyalahgunaan RRI untuk menyampaikan informasi yang mengandung maksud tertentu kepada masyarakat selaku pendengar,” tambahnya. (Sumber: Kompas.com). 

Subscribe to receive free email updates: