Pengrusakan Patung Yesus dan Bunda Maria di Klaten, Disinyalir Langkah Kelompok Ekstrimis Untuk Mengacaukan Indonesia

Patung Yesus dan Bunda Maria yang Dirusak orang Tak Dikenal
IndonesiaHerald.com - Patung Yesus & Bunda Maria di Gereja Katolik Santo Yusuf Pekerja di Minggiran, Plawikan, Jogonalan, Klaten, Jateng, dirusak orang tidak dikenal. Aparat Polres Klaten terus menyelidiki untuk mengetahui motif perusakan patung itu oleh tersangka. 

Koster Gereja Santo Yusuf Pekerja, Yohanes Sumarsono, menuturkan pertama kali mengetahui patung Yesus roboh terjatuh waktu dirinya berdoa di gereja. Ketika itu, patung Yesus telah terjatuh & lengan tangan kanan rusak. Sementara, patung Bunda Maria tak ada di tempat biasanya. 

"Patung Tuhan Yesus posisinya telah tertelungkup & rusak di bagian tangan kananya. Sedangkan patung Bunda Maria hilang, kemudian saya coba cari ke sungai di samping gereja ketemu. Alas patung ada di bibir sungai, tetapi patung Bunda Maria ada di tengah aliran sungai," menurutnya waktu ditemui di Gereja Santo Yusuf Pekerja pada Rabu tengah malam, 9 Agustus 2016. 

Sungai itu berada pas di sudut timur Gereja. Terdapat suatu tangga dari semen dengan ketinggian kurang lebih sepuluh meter uutuk turun dari halaman parkir gereja ke dasar sungai. Adapun kedalaman airnya kira kira cuma 30 sentimeter. 

Dia cepat mengabarkan pada pihak Gereja terkait penemuan itu. kemudian, Gereja cepat melaporkan pada Kepolisian. 

Marsono mengemukakan patung Yesus itu tingginya kurang lebih 175 sentimeter dengan berat kira kira 20 kilogram. Adapun patung Bunda Maria tingginya kurang lebih 165 sentimeter dengan berat kurang lebih 15 kilogram. Kedua patung berongga dari material fiber itu berada di bagian kiri altar. 

"Patung Tuhan Yesus yang roboh jatuh itu tingginya lebih kurang 1,75 meter & berbobot 20 kilogram. Sementara itu patung Bunda Maria itu mempunyai tinggi kurang lebih 1,6 meter & berat 15 kilogram. Saat ini ke-2 patung itu disimpan di Gereja," ujarnya. 

Kapolres Klaten, Ajun Komisaris Agung Faizal, mengemukakan laporan adanya dugaan perusakan patung Yesus & Bunda Maria diterima Polsek Jogonalan pada Selasa lalu. Berdasarkan keterangan Romo Sukomulyono, waktu Selasa siang, pernah mendengar suara seperti benturan. Lantas, Romo juga mengira suara tersebut merupakan suara atap jatuh. 

Menurut keterangan Romo Sukowalyono, pastur di gereja Katolik tersebut, Faizal mengemukakan pemindahan patung itu diperkirakan pada jam 13.00-14.00. Romo baru mengetahui kejadian itu sepulang dari Yogyakarta. “Saat itu Romo mendengar suara bluk, dikira asbes atau genteng jatuh. Dikarenakan tak menyaksikan ada yang rusak, Romo dulu ke Djogja,” kata Faizal. 

Sepulang dari Yogya sekitar pukul 15.00 WIB, Romo baru menerima laporan ihwal kejadian yang menimpa dua patung rohani itu. “Gereja itu bangunannya berupa pendopo yang terbuka. Tak tertutup, siapa saja mampu serta-merta masuk,” kata Faizal. 

Polisi langsung menyelidiki kasus dugaan perusakan patung Yesus & Bunda Maria itu. Polisi sudah memeriksa tiga saksi, di antaranya, pihak Gereja, pencari pasir di sungai, & seseorang wanita. 

Saat disinggung menyangkut motif dari perusakan itu, Faizal belum mampu menyimpulkan sebab masih dalam proses penyelidikan. Tetapi berdasarkan penyelidikan, tersangka yang diduga pelaku perusakan sekitar dua orang. 

"Kemungkinan dua orang yang melakukan dugaan perusakan itu. Kita nanti juga akan saksikan dari rekaman CCTV milik Gereja yg tetap aktif," menurutnya. 

Sampai saat ini, polisi masih mencari tahu siapa tersangka dan apa motif di balik pemindahan patung itu. Sebab, pada hari yang sama, pun beredar info mengenai perusakan patung oleh orang tidak dikenal di Goa Maria Sendang Sriningsih, Dusun Jali, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kab Sleman. “Kami belum dapat menyimpulkan dikarenakan masih dalam tahap penyelidikan,” kata Faizal. 

Sementara itu seorang warga sekitar Gereja Santo Yusuf Pekerja yang enggan disebut namanya, menyatakan perusakan ini diduga dilakukan kelompok-kelompok radikal yang ingin memicu konflik SARA. “Kejadiannya siang hari ini menunjukkan kelompok radikal ini secara terang-terangan ingin memancing kemarahan dan konflik,” kata warga yang tinggal tidak jauh dari gereja tersebut dilansir netralitas.com.

Ia menyatakan aksi-aksi ini berkait dengan rentetan peristiwa lain yakni ketidakpuasan pada pembangunan tempat peristirahatan Griya Samadi milik Romo Gregorius Utomo yang berada di Desa Rejoso, Jogonalan Klaten yang segera akan diputuskan oleh Pemda Klaten. Rumah milik Romo Utomo yang sudah puluhan tahun dipakai untuk berbagai kegiatan, berdiri cukup lama di atas lahan 3800 m² di tengah kampung desa Rejoso, Jogonalan, Klaten sampai saat ini masih disegel satpol PP. Griya Samadi ini lokasinya tidak jauh dari Gereja Katolik Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun.

“Ini (rumah Romo Gregorius Utomo) sebentar lagi akan diputuskan oleh Pemda Klaten. Dari dulu itu memang rumah pribadi milik Romo. Tapi oleh kelompok-kelompok radikal Islam dituduh sebagai gereja liar,” kata sumber tersebut. Kelompok-kelompok radikal ini terus melakukan ancaman, melakukan demo di Pemda Klaten dan mereka siap berjihad untuk menggagalkan pembangunan rumah pribadi yang dituding sebagai gereja liar.


Seperti diketahui sejumlah ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), Kokam Muhammadiyah dan Jamaah Anshor Taudhid (JAT) mendesak Pemda Klaten menolak pembangunan rumah pribadi milik Romo Gregorius Utomo. Ormas-ormas Islam itu memprotes pembangunan tambahan kamar di samping rumah Joglo yang sudah ada. Mereka juga mengancam akan merobohkan secara paksa jika rumah pribadi Romo Utomo digunakan untuk sembayang.

(Viva/Tempo/netralitas/IH-001)

Subscribe to receive free email updates: