Mukidi Lagi, Lagi-lagi Mukidi, Penasaran Sosok Pembuat Cerita Humor Mukidi, Ini dia

Soetantyo Moechlas. Photo Tribun
IndonesiaHerald.com - Mukidi. Nama ini di mana-mana disebut. Cerita-cerita Humor segar mengisi group-group Whatsapp dan media sosial dengan tokoh rekaan Mukidi.

Guyonan ringan dengan beraneka latar setting cerita dengan tokoh Mukidi ini berhasil menarik perhatian publik dan mengundang tawa bagi siapa pun yang membacanya.

Baca: Kumpulan Humor Mukidi Yang Bikin Ngakak

Penasaran, siapa dibalik cerita-cerita humor yang menjadi viral di media sosial dan whatsapp ini?

Dilansir Tribun ternyata di balik tenarnya Mukidi ada seorang pria bernama Soetantyo Moechlas.
Pria berjenggot yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah.  Kini pria ini tinggal di Bekasi.

Sejak tenarnya Mukidi dan sejumlah serial ceritanya, nama Seotantyo adalah yang paling dicari.
Tentu saja karena penasaran siapa yang membuat cerita Mukidi dengan karakter tokoh fiksi rekaan yang apik ini.

Hingga pada Jumat (26/8/2016) malam, akun Facebook milik pria yang kerap disapa Yoyok ini pun banyak dibanjiri tautan.

Sebagian besar merupakan bentuk apresiasi dari netizen kepada sang penulis ini.
Beberapa orang yang mengaku mengenal Yoyok pun juga menuliskan tautan yang mendeskripsikan karakter sang penulis.

"Sosok dibalik pencipta Mukidi yang sekarang menjadi viral di WA dan medsos lain adalah Soetantyo Moechlas..kami kami teman lama beliau biasa memanggil Pakde Tantyo..seorang humoris..membumi..dan mempunyai kemampuan imajinasi humoris luar biasa...atas seijin beliau berikut ini saya capture beberapa buku yang sudah beliau tulis..YANG PALING HITS ADALAH TRILOGI LASKAR PELAWAK...BALADA MUKIDI DAN WAKIJAN...(jilid 1-3)..guyonan santai dan ringan tentang MUKIDI yang menjadi hiburan kami saat galau dan baper..Proud of u pakde," tulis Dina Mumpuni dalam beranda milik Yoyok.
"Mukidi dalam kesunyian. Sebenernya saya sudah tahu mukidi itu siapa. Dari dulu malah. Jauuh sebelum booming kayak sekarang. Ia selalu membagikan cerita di laman facebooknya. Lucu dan menggelitik. kadang dia lucu tapi tak jarang cerdas dan jenaka. Memang sekaranglah saatnya karyanya di apresiasi. Selamat bapak Soetantyo Moechlas. Mukidinya booming. Bapak ini sepertinya memang sosok yang sederhana. Tak ingin terekspos terlalu banyak. Sekali lagi selamat," tulis Agung Rival.

Math, 24 Juni 2013


Wakijan sudah insyaf dan mulai rajin ngaji.

"Mas Wakijan, sholat Subuh ada berapa rakaat?" Ustad ngetes.

"4, ustad!"

"Mas Wakijan pulang dulu deh, cari jawaban yang benar."

Di tengah jalan Wakijan ketemu Mukidi sahabatnya: “Di, menurut kamu sholat Subuh ada berapa rakaat?”

"Ya 2 lah."

"Wah payah dah, mendingan lu pulang deh. Belajar lagi."

"Emang kenapa?"

"Nah gue bilang 4 aja masing salah, apalagi 2?"

The Mask Effect, 18 Agustus 2012

Menjelang Idul Fitri Markonah tertarik membeli kosmetik mahal asli Paris bukan beli dari MLM seperti teman-temannya. Kosmetik ajaib yang lebih mahal dari Bobbi Brown, Stila, dan Mac menurut salesgirlnya memberi garansi, pemakainya akan tampil jauh lebih muda dari usianya.

Setelah berjam-jam duduk di depan meja rias, mengoleskan kosmetik ‘ajaib’ nya, dia bertanya kepada Mukidi, sang suami:

“Mas, sejujurnya berapa tahun kira-kira usiaku sekarang?”

Mukidi memandang lekat-lekat istrinya tercinta.

“Kalau dilihat dari kulitmu, usiamu 20 tahun; rambutmu, hm…18 tahun….penampilanmu; 25 tahun…”

“Ah mas Mukidi pasti cuman menggoda,” Markonah tersipu manja.

“Tunggu dulu sayang, saya ambil kalkulator….. saya jumlahkan dulu ya…..”


Lunch, 21 Juni 2013


Pulang Jumatan, Mukidi diajak ustad yang mengisi khutbah siang ini makan siang di Sederhana. Maklum amplop pak ustad siang ini cukup tebal.

"Ayo mas, sikat saja…" kata ustad, begitu makanan selesai dihidangkan. Bagaikan musafir yang menemukan air di padang pasir, Mukidi mengawali makan siangnya dengan ayam pop lengkap, lalu gulai kepala ikan, giliran berikutnya udang goreng yang menggoda. Pak ustad juga tak kalah gesit. Yang penting halal, lagipula mentraktir orang, besar pahalanya.

Mukidi melengkapi makan siang yang mengesankan itu dengan jus durian. Pak ustad memanggil pelayan untuk menghitung jumlah makanan yang mereka embat. Seperti biasa, si pelayan cekatan sekali menghitung tanpa kalkulator.

“Ustad, apa doanya sesudah makan?” tanya Mukidi sambil mencuci tangan “Astaghfirullah!” ustad berseru.

“Loh doanya sudah ganti ya? ko astaghfirullah?”

“Bukan! itu doa kalau melihat bon makan siang….”

Salah Sambung


Ketika waktu istirahat, Mukidi memasuki kantin karyawan di pabriknya pada hari pertama dia bekerja di perusahaan itu. Gadis pelayan kantin menyambutnya dengan ramah.

“Selamat siang mas Wakijan, mau makan apa?” Mukidi kaget atas sambutan akrab tadi walaupun dia kaget karena dipanggil sebagai Wakijan. Tadinya dia mau menjelaskan nama sebenarnya, namun karena pengunjung makin bertambah dan pelayan makin sibuk maka dia diam saja : “What is in a name?” pikirnya.

Mukidi memilih menu, lalu menunggu pesanannya.Makan siang berikutnya demikian pula, kembali si mbak pelayan melayaninya dengan akrab dan masih tetap memanggilnya Wakijan.

Hari berikutnya masih begitu, dan dia berusaha mendiamkan kekeliruan ini berlangsung terus, sampai sebulan kemudian karena merasa tidak tahan dengan kelirumologi itu, suatu kali makan siang dia sengaja tidak buru-buru kembali ke kantor dan mengajak bicara si mbak pelayan yang sok akrab itu.

“Mbak, dengarkan baik-baik ya, nama saya Mukidi bukan Wakijan!” Mukidi menjelaskan dengan mantap, “ingat ya, Mukidi..” sementara si mbak hanya senyam-senyum saja.

Keesokan harinya ketika istirahat makan siang si mbak kantin berlari-lari menyambutnya lebih semangat dari hari-hari sebelumnya.

“Mas Wakijan….mas Wakijan…ke sini deh saya bilangin..” si mbak menggandengnya dan menarik kursi duduk berhadapan, lalu:

“Mas Wakijan percaya nggak, kemarin ada orang miriiiip sekali sama mas Wakijan. Namanya Mukidi!” Mukidi hampir pingsan…

(Tribun/Dream/IH-001)

Subscribe to receive free email updates: