Misteri Pembobolan ATM di Bekasi, Pelaku Pendiam dan Mapan

IndonesiaHerald.com, Jakarta - Rambut sama hitam, soal hati siapa yang tahu. Begitulah yang terjadi pada sosok Valino F. Sianipar, 22 tahun, dan Mikael Wijaya, 16 tahun. Oleh lingkungan keluarga maupun tetangga kanan-kiri di lingkungan Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi kedua pemuda itu dinilai sebagai sosok dan pribadi yang baik. Sama-sama pendiam, tak pernah bikin onar, dan rajin ke gereja.

Tapi semua citra itu runtuh seketika justru di hari kemerdekaan 17 Agustus lalu. Keluarga dan tetangga kanan-kiri dikagetkan oleh kabar bahwa keduanya terlibat dalam upaya pembobolan ATM BRI di Pebayuran, Lemah Abang-Kabupaten Bekasi pada Rabu dinihari, 17 Agustus.

“Kami benar-benar terpukul, gak menyangka sama sekali kenapa dia bisa berbuat seperti itu,” kata kakak perempuan Valino yang menolak ditulis namanya. Jika mengikuti nalar sehat, sangat tidak mungkin bungsu dari tiga bersaudara itu mau bertindak kriminal. Sebab dia sendiri adalah seorang aparat penegak hukum. Sudah tiga tahun, Valino menjadi personel Unit Patroli Motor pada Direktorat Sabhara di lingkungan Polda Metro Jaya dengan pangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda).

“Dia pernah cerita kalau dalam waktu dekat akan naik pangkat menjadi Brigadir Polisi Satu (Briptu), eh sekarang malah jadi seperti ini,” ujar si kakak dengan wajah sendu. Selebihnya ia kemudian memilih tutup mulut. “Saya capek, tunggu saja nanti setelah semuanya clear.”

Sebagai bujangan, Valino mestinya tak kekurangan secara materi. Selain punya penghasilan sendiri, ibunya pun masih bekerja di sebuah bank BUMN. Kedua kakaknya pun sudah punya penghasilan masing-masing. Sementara sang ayah, sudah tiga tahun berpulang setelah lama menderita penyakit diabetes.

“Pokoknya kami gak menyangka lah, gak masuk akal kalau dia terlibat begituan. Secara perekonomian tergolong keluarga mapan. Dia itu santun, suka menolong. Jiwa sosialnya sangat tinggi," kata Tohir, tetangga Valino.

Sepekan setelah kejadian, soal motif pembobolan ATM itu masih menjadi misteri. Tim penyidik belum dapat mengorek keterangan karena Valino mengalami gegar otak dan dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Jakarta Selatan. “Ya..., jangankan dimintai keterangan untuk dimintai tanda tangan saja belum bisa, jadi cuma cap jempol. Dia masih suka munta-muntah karena gegar otak,” kata juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono saat ditemui, Rabu, 24 Agustus.

Selama dua tahun berdinas di satuan Sabhara, Awi melanjutkan, pretasi Valino tergolong biasa saja. Tapi secara pribadi dia tak pernah membuat masalah atau melakukan pelanggaran apapun. Hubungan dengan sesama teman di Sabhara maupun dengan komandannya juga baik-baik saja.

Terkait informasi bahwa Valino memiliki tabungan hampir Rp 200 juta sehingga mengundang spekulasi aksi pemboblan ATM di Pebayuran bukan yang pertama kali dilakukannya, Awi tak menepisnya. Hanya saja jumlah tabungan itu tidak bisa serta-merta disimpulkan merupkan hasil tindak pidana. Bagi dia, aksi Valino di Pebayuran itu belum masuk kategori tindak pidana melainkan masih percobaan. Sebab ATM baru dilas untuk dibobol dan belum ada uang yang diambil. “Jadi belum bisa dikatakan tindak pidana.”

Usia Valino dan Mikael sebetulnya terpaut cukup jauh, tujuh tahun. Keduanya juga punya latar profesi berbeda, Valino sudah tiga tahun menjadi polisi sementara Mikael masih duduk di bangku kelas II sekolah menengah atas di Tambun Selatan. Tapi keduanya dikenal bersahabat karib. Kerap terlihat berbincang bersama, tak kecuali bila saat di gereja. Ketiadaan sosok ayah boleh jadi menjadi menjadi perekat diantara keduanya. Ayah Valino sudah meninggal karena sakit, sedangkan Mikael ditinggal sang ayah sejak balita.

Tapi menurut para tetangga, guru, teman sekolah, maupun pengurus Yayasan Yatim Piatu tempatnya tinggal menilai Valino sebagai anak baik. Sejak berusia 10 tahun dia tinggal di Yayasan di lingkungan Jatimulya. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga, juga di Jatimulya.

“Pokoknya dia gak suka macem-macem. Jarang keluarlah, di sini mulu,” ujar ketua Yayasan yang tak mau ditulis namanya. Menurut perempuan berambut ikal yang berasal dari Sumatera Utara itu, sebelum dimakamkan di Jatirangon, jenazah Mikael sempat disemayamkan di Yayasan. “Guru, teman sekolah, dan orang-orang di sini pada datang untuk menemuinya terakhir kali,” ujarnya.

Keterangan pengurus yayasan tersebut diperkuat oleh kesaksisan beberapa warga sekitar, juga Dede Ismail, guru di sekolah tempat Mikael menimba ilmu. Di sekolah, kata Dede, Mikael tergolong pendiam dan punya relasi cukup baik dengan teman-teman sekelasnya. Cuma prestasinya secara akademik tergolong biasa saja, dan sesekali suka absen ke sekolah karena alasan tertentu.

“Kalau di olah raga saya dengar dia pernah juara Tae Kwon Do,” ujarnya. Selebihnya dia meminta agar tidak mengaitkan aktivitas Mikael dengan sekolah. Apalagi informasi seputar keterlibatan Mikael dan Valino dalam upaya pembobolan ATM di Pebayuran masih dianggap simpang siur.

“Keluarga bilang dia kecelakaan, polisi tidak mengabari kami bahwa dia terkait dengan aksi di Pebayuran,” ujar Dede. (Sumber: detik.com). 



Subscribe to receive free email updates: