Mengintip aksi Death Squad Bentukan Duterte "The Punisher" dalam Memberantas Kejahatan di Filipina

IndonesiaHerald.com, Manila - Sejak Rodrigo Duterte menjadi presiden di Filipina, sudah banyak perubahan yang dilakukannya untuk memberantas kejahatan. Sudah banyak penjahat terutama terkait kasus narkoba yang tewas di jalanan. Ini bukan hanya hasil kerja aparat penegak hukum. Tapi juga kerja death squad yang dibentuk Duterte sebelum menjadi presiden.

Tim itu lahir sebagai Suluguon sa Katawhan (pelayan masyarakat) pada pertengahan 1990-an. Kemudian berubah menjadi Davao Death Squad (DDS) yang tenar karena aksi main hakim sendiri atas restu Rodrigo Duterte yang menjabat wali kota Davao.

Berikut ini sepak terjang death squad di Filipina berdasarkan data dari Wikipedia, Rappler, BBC:

- Mula-mula hanya beranggota 10 orang, lalu menjadi sekitar 500 pada 2009.

- Sebagian besar anggotanya adalah mantan personel NPA (New People's Army) atau sayap bersenjata partai komunis Filipina.

- Diawasi oleh polisi atau mantan polisi yang berperan sebagai pemimpin sekaligus pelindung.

- Seluruh anggota DDS mendapat pelatihan khusus tentang aturan main kelompok elite tersebut.

- Anggota DDS dipersenjatai pistol kaliber .45 dan diberi kendaraan berupa sepeda motor.

- Pemimpin DDS memberikan sebanyak dan sedetailnya informasi tentang target tim elite itu.

- Target ditetapkan oleh pemimpin DDS atau pemerintah setempat.

- Bersama kepolisian setempat, pemerintah lokal harus bisa menjamin kelancaran eksekusi, termasuk saat target melawan atau kabur.

- Anggota DDS menerima bayaran 5.000-50.000 peso (setara Rp 1,4 juta sampai Rp 14,3 juta) untuk setiap eksekusi yang dilakukan.

Metode Eksekusi 

- Anggota DDS datang ke lokasi eksekusi bersama beberapa rekan dengan mengendarai sepeda motor (biasanya dua atau tiga sepeda motor).

- Sepeda motor sengaja tidak ditempeli pelat nomor agar tidak terlacak.

- Anggota DDS menyembunyikan identitas dengan pakaian serba tertutup, termasuk menutupi wajah dan kepala.

- Target biasanya ditembak, tapi ada juga yang ditikam dengan senjata tajam.

- Aksi dilakukan di depan publik, biasanya pada siang bolong.

- Langsung melarikan diri begitu eksekusi selesai dilakukan.

Pascaeksekusi (Peran Polisi Setempat) 

- Polisi setempat sengaja lamban merespons eksekusi dengan pura - pura tidak tahu meski lokasinya dekat.

- Mencatat keterangan saksi mata meski tidak lantas menindaklanjutinya.

- Kasus pembunuhan itu tidak diproses lebih lanjut. (Sumber: jpnn.com).

Subscribe to receive free email updates: