Ketika Dalang "Koplak" Menggetarkan Moskow dengan Wayang Revolusi Mental

IndonesiaHerald.com, Moskow - Revolusi mental yang didengungkan Presiden Jokowi bergema sampai Moskow. Adalah dalang Ki Andrik Purwasito yang juga dikenal sebagai dalang koplak membawakan lakon revolusi mental di Ibu Kota Rusia itu. Bagaimana ceritanya?

Pertunjukan itu adalah bagian dari acara penyemarak festival Indonesia di Rusia yang untuk pertama kalinya dihelat di Rusia. Sang dalang, ki Andrik Purwasito sebenarnya adalah guru besar ilmu komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Selain mendalang, Prof Andrik juga melatih warga Moskow menabuh gamelan dan jadi sinden.

Kembali soal pertunjukan wayang kulit yang mendebarkan, pagelaran di tenda berukuran 10x10 meter itu memang sukses menyabet perhatian pengunjung dari anak kecil, pemuda sampai orang tua. Bahkan tak sedikit gadis cantik Rusia duduk di barisan terdepan.

Sama seperti lokasi festival Indonesia, pagelaran digelar di Taman Hermitage di pusat kota Moskow, Sabtu (10/8/2016). Yang semakin spesial adalah penabuh gamelan dan sindennya adalah warga Rusia. Mereka benar-benar menyatu dengan pertunjukan wayang lengkap dengan kebaya hijau.

Antusiasme warga Rusia terlihat jelas, begitu tenda dibuka, langsung berebut masuk duduk di barisan terdepan. Bahkan mereka dengan sabar menunggu sang dalang sedang mangatur gamelan dan menata wayang di depan layar putih. Wayang ditancapkan di atas vas punya sebagai pengganti pelepah pisang yang biasa digunakan dalam pertunjukan wayang.

"Negari Indraprastha, yaitu Negari para Pendawa sedang mendapatkan cobaan yang berat. Korupsi merajalela, Rakyat kehilangan kepercayaan terhadap Pemimpinnya. Para pejabat tidak dihormati, guru dilecehkan, militer dan polisi dihinakan, pers kehilangan kendali. Kondisi Indraprastha yang lemah tersebut dimanfaatkan oleh Negari Hastinapura untuk melakukan kekacauan dan agresi," ujar Ki Dalang membuka pagelaran wayang ini. 

Cerita kemudian memasuki babak pertama pathet nem. Saat Raja Ndwarawati, Kresna mendengar berita buruk tersebut. Sebagai sekutu dan pendukung setia Pendawa, ia memanggil para senopati muda dan Punakawan untuk membantu mengatasi kekacauan tersebut. Gatotkaca dan dua saudaranya, Ontorejo dan Ontosena, terpilih sebagai patriot untuk melindungi negari dari bahaya musuh yang datang dari dalam maupun dari luar. Ketiganya mencari aktor intelektual, para penyusup yang datang dari Hastinapura dan sekutunya. Gatotkaca dengan batuan dua saudaranya berhasil menghalau musuh ke luar dari Indraprastha melalui peperangan yang dahsyat. 

"Semar dan anak-anaknya, Gareng, Petruk, Bagong, diminta oleh Kresna untuk memperingatkan Raja Indraprasta, Puntadewa. Semar sebagai sesepuh dan pujangga memperingatkan Raja dan Nayakapraja agar menegakkan kembali falsafah bangsa yaitu Limasila. Yakni, 1. mengamalkan agama secara lurus, 2. menghargai HAM, 3. Mempekokoh persatuan dan kesatuan bangsa. 4. Menjujung demokrasi. 5. Menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Selanjutnya, Semar juga mengingatkan agar Raja dan para nayakapraja agar mematuhi undang-undang negari, sebagai payung hukum bangsa, menghargai nilai dan norma sosial sebagai perekat sosial yang berkembang di masyarakat," ujar Ki Dalang dalam memasuki pathet sanga atau babak kedua.

Masuklah kepada babak III atau pathet manyura. "Raja setuju dengan revolusi mental Semar. Nayakapraja yang bersalah dihukum. Rakyat bersuka cita karena Indraprastha kembali aman, tentram dan damai. Rakyat sejahtera dan hidup rukun meskipun berbeda suku, agama dan golongan. Gatotkaca mendapatkan gelar baru, Gatotkacasraya, Sang Patriot Sejati. Semar dan anak-anaknya mendapatkan anugerah sebagai Penasehat Utama Pendawa," katanya.

Di akhirnya Ki Dalang menyampaikan pesan moral di balik pertunjukan wayang ini. "Masa itu di tangan anak muda. Maka tirulah patriotisme Gatotkaca yang belajar dan bekerja bukan sekedar mencari uang tetapi dalam bentuk pengabdian kepada negara dan ibadah," katanya dalam bahasa Rusia. (Sumber: detik.com). 

Subscribe to receive free email updates: