Gawat! Sindikat Internasional Ini Eksploitasi Puluhan Anak untuk Video Konten Dewasa, Tak Sedikit Dari Indonesia

Dua remaja sedang menonton film lewat laptop.
IndonesiaHerald.com, Spanyol  Aparat Kepolisian Spanyol, Selasa (9/8/2016), mengumumkan terbongkarnya praktik pornografi anak. Polisi menangkap tujuh orang yang diduga mengeksploitasi 80 anak di bawah umur.

Para penyidik mengungkapkan, jaringan ini mendistribusikan produk mereka melalui situs internet dan DVD.

Ada ribuan foto dan video porno anak-anak yang telah disebarkan dalam praktik yang berjalan kira-kira 15 tahun terakhir.

Di antara para tersangka yang ditangkap, -kebanyakan adalah warga Maroko dan Perancis, terlibat dalam kasus kekerasan seksual anak di bawah 13 tahun. 

Penyelidikan kasus ini bermula di Kota Tortosa, sebelah timur timur negara bagian Catalonia, ketika ditemukan adanya pertunjukan pornografi anak di sebuah apartemen di sana.

Dalam temuan pada bulan Mei 2015 ini, tiga tersangka ditangkap, dua berkebangsaan Perancis dan satu Maroko. 

Pada bulan Juli, empat tersangka lainnya dibekuk di sejumlah negara bagian di Spanyol, mulai dari Catalonia hingga Valencia sebelah timur dan wilayah Basque di utara.

"Bagian besar dalam rantai kejahatan ini diproduksi oleh organisasi kriminal itu sendiri," ungkap aparat kepolisian,seperti dikutip AFP.

Para korban adalah anak-anak yang rentan sosial di Spanyol dan Maroko. 

Gambar-gambar lain menunjukkan pembuatan foto dilakukan dalam perjalanan antara tahun 2000 hingga 2015 di sejumlah negara.

Ada yang diproduksi di Tunisia, Sri Lanka, Kamboja, Laos, Thailand, Singapura, Kenya, Republik Ceko, Perancis dan juga Indonesia.

Dari 80 korban kejahatan pornografi yang terlihat dalam jaringan ini, sudah 29 orang yang berhasil teridentifikasi. 

Bisnis Video Mesum Anak

Sekjen KPAI Erlinda menyatakan kasus pembuatan video mesum yang melibatkan anak-anak memang pernah terjadi di Bogor pada tahun 2015 lalu. Menurutnya,  dalam kasus tersebut, anak-anak di bawah umur menjadi korban perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual. Korban yang diberi narkoba ditipu dengan iming-iming pekerjaan dan dipaksa menjadi pekerja seks komersial.

Bisnis pornografi anak, kata Erlinda, sangat menggiurkan. Menurutnya, tahun lalu saja omset bisnis mesum tersebut menghasilkan laba bersih sekitar Rp. 5,1 triliun.

Pada video mesum yang beredar beberapa hari ini, tampak si pengambil gambar mengarahkan kedua pelaku untuk melakukan sejumlah perbuatan tidak senonoh. Bisnis pornografi anak sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia saja namun juga di berbagai belahan dunia.

“Meski keterlibatan sindikat besar ini masih bersifat dugaan, kami berharap pihak kepolisian bisa mengusutnya dengan tuntas,” pintanya.

Video sepasang bocah kecil yang melakukan hubungan intim layaknya suami istri beredar dengan penyebaran link situs internet. Selain melanggar UU Perlindungan Anak, penyebaran konten mesum anak dapat dikenakan UU Pornografi No. 44 Tahun 2008 dengan ancaman 12 tahun penjara.

“Menyebarluaskan link video anak-anak yang melakukan hubungan seks adalah kejahatan. Pelakunya bisa dipidana karena dia bisa menjadi salah satu pelaku kejahatan seksual anak,” ungkap Wakil Ketua KPAI Maria Advianti pada kesempatan yang sama.

Sementara itu, untuk melindungi anak-anak dari konten asusila. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise sedang menyiapkan peraturan menteri mengenai larangan penggunaan telepon seluler atau ponsel terhadap anak-anak.

“Kami sedang menyiapkan permen (peraturan menteri) mengenai aturan tersebut. Saya pikir, anak-anak, terutama yang masih duduk di sekolah dasar (SD), belum perlu HP (ponsel),” ujar Yohana dalam seminar di Universitas Negeri Jakarta, kemarin.

Menurut dia,  penggunaan ponsel membuka peluang bagi anak-anak untuk membuka situs-situs yang kurang baik.

“Ketika SD membuka situs-situs yang kurang baik, ketika SMP dan SMA sudah mulai mempraktikkan,” ucapnya.

Maraknya prostitusi online, lanjut dia, tidak terlepas dari penggunaan ponsel. Dampak buruk lainnya adalah hilangnya konsentrasi belajar, interaksi sosial yang semakin kecil, hingga pemanfaatan waktu belajar yang kurang efisien.

Yohana menambahkan, anak merupakan aset bangsa sehingga pemerintah wajib melindungi generasi mudanya melalui peraturan. Orangtua pun, lanjut dia, juga harus melarang anak-anaknya menggunakan ponsel secara berlebihan.

“Bahkan, ketika SMP dan SMA pun, hanya HP tertentu yang diperbolehkan,” ujar dia. Ia berharap permen tersebut bisa segera diselesaikan karena bertujuan melindungi anak-anak bangsa. (kompas.com/radarbogor.id/IH-100816).


Subscribe to receive free email updates: