Berbeda dengan Indonesia Lahir dari Keragaman, Korea Utara Berangus Eksistensi Agama Seperti Ini

Kim Jong Un Larang Eksistensi Agama di Korea Utara
IndonesiaHerald.com - Petugas keamanan rezim Korea Utara merazia toko-toko yang kedapatan menjual salib, simbol kekristenan, yang menjadi simbol spirit pengorbanan Yesus saat dihukum oleh kaum Yahudi. 

Bahkan, seperti dilaporkan Daily Express, Sabtu (6/8/2016), anak-anak sekolah musti berhati-hati waktu menuliskan “tambah” (+) saat belajar ilmu matematika supaya tak menyerupai salib. 

Saking paranoid kepada salib, keseluruhan produk yang menyerupai salib (dua barang yang bersilang), seperti dasi kupu-kupul, penjepit rambut, dan bando, hingga motif pakaian,juga disita. 

Baca: Keren, Garuda Indonesia Masuk 10 Besar Maskapai Favorit Traveler Dunia

Aksi tak populer oleh rezim pemimpin belia Korut, Kim Jong Un, itu dilakukan sebagai upaya untuk memberhangus orang-orang Kristen dan kekristenan. 

Para petinggi pemerintah telah dan sedang disebar untuk menyita salib dan seluruh barang yang menyerupai salib itu, termasuk juga label kertas atau gambar, yang dipasarkan di toko. 

“Siswa bahkan sudah diberitahu buat berhati-hati agar mereka mestinya menulis tanda “tambah” (+) matematis jangan sampai keliru seperti salib,” catat media Inggris itu. 

Baca: Membanggakan, Tiga Tahun Berturut-turut Garuda Indonesia Sabet Penghargaan Profesional Ini

Fasilitas penjepit baju dan rambut juga diperiksa, yang merupakan sektor dari aksi tegas untuk meniadakan seluruh simbol agama Kristen di Korea Utara. 

Salah satu pedagang di Pyongyang mengemukakan pada Radio Free Asia, “Kami senantiasa berikhtiar untuk tentukan tak ada karakter Korea terhadap label-label product yang kami bawa dari China”. 

“Sekarang kami diharuskan untuk memeriksa ulang untuk tentukan bahwa tak ada sesuatu yang tampak seperti salib,” imbuhnya. 

“Beberapa design baju perempuan akan tampak seperti suatu salib, tergantung terhadap siapa yang bakal melihatnya,” tuturnya. 

Baca: Berkat Jokowi, Sri Mulyani dan Wiranto Mau Jadi Menteri

“Tanda-tanda salib pun kelihatan pada penjepit rambut, bando, & dasi kupu-kupu pada laki laki,” kata pedagang itu yang merasa heran dengan sikap paranoid petinggi Korea Utara itu. 

“Semua product tersebut amat mungkin saja disita selagi ada sidak dari petinggi pemerintah,” ujarnya lagi. 

Korut sejak awal sudah dijuluki juga sebagai negeri paling berbahaya di dunia bagi orang Kristen. 

Rezim despotik Kim Jong Un dilaporkan sudah mengaplikasikan hukuman paling keras kepada beberapa orang Kristen. 

Baca: Ini Analisa Profesor Australia Soal Prediksi Indonesia Jadi Kekuatan Besar Baru di Dunia

Ribuan Kristen menghadapi penangkapan, penyiksaan, penjara & hukuman mati. 

Sampai kini setidaknya 70.000 orang Kristen sudah dijebloskan ke dalam tahanan atau masuk ke kamp kerja paksa di Korut lantaran mempertahankan iman & keyakinannya. 

Mereka bahkan dipaksa untuk mengingkari keyakinan untuk memuja berhala, atau dapat disiksa sampai tewas. 

Ada rupa-rupa kekerasan kepada agama tersebut. Peningkatan kekerasann pada Kristen sejak Jong Un melarang tindikan & baju bergaya Barat. 

Baca: Keren! Ini Aksi Pasukan Elit Dunia yang Berhasil Bebaskan Sandera, Dan Ternyata...

Instansi karitas Open Doors mengemukakan, dinas karitas Kristen masih bekerja di “bawah tanah” buat menghindari tekanan dari rezim. 

Media susah mengonfirmasi petinggi Korea Utara yang mempunyai wewenang di Pyongyang sebab negeri ini pun tertutup & keras kepada media dan juga melarang gerakan jurnalistik yang dinilai merugikan rezim. (Kompas/IH001)

Subscribe to receive free email updates: