Kudeta Militer Turki Hanyalah Rekayasa Erdogan?

Dua orang tentara ditangkap atas tuduhan terlibat kudeta (photo by kompas,com).
Indonesia Herald, Ankara - Upaya sekelompok militer untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah berhasil digagalkan.

Hampir 3.000 tentara yang diduga terlibat kudeta militer telah ditangkap Pemerintah Turki.

Meski demikian, kini aroma adanya rekayasa atas terjadinya kudeta singkat tersebut makin menguat.

Pasalnya sejumlah tentara yang ditangkap atas tuduhan kudeta mengaku tidak tahu bahwa mereka berupaya mendongkel kekuasaan Erdogan.

Dilansir dari laman RT yang Kompas.com kutip Minggu (17/7/2016), saat diinterogasi, para tentara itu mengaku mengira sedang melakukan latihan militer. Mereka baru sadar apa yang terjadi saat dihadang masyarakat yang menolak kudeta.

"Saat orang mulai naik ke atas tank, kami baru mulai memahami semuanya," ujar seorang tentara, dikutip dari media Turki, Hurriyet.

Sputnik melaporkan pada Sabtu (16/07) bahwa media sosial kini ramai menyebut klaim baru bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memalsukan upaya kudeta terhadap pemerintahnya setelah pemimpin negara itu menyebut penggulingan yang gagal itu adalah “hadiah dari Allah.”

Nampaknya rekayasa kudeta ini sengaja diciptakan oleh Erdogan untuk menaikkan popularitas dirinya ditengah sejumlah masalah nasional (seperti persoalan ekonomi dan keamanan) yang gagal dia selesaikan.  

Sebelumnya, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim melaporkan bahwa sebanyak 2.893 prajurit dan perwira telah ditahan atas dugaan upaya kudeta.


Sebanyak 678 tentara dan 10 perwira yang dipimpin seorang kolonel juga ditahan saat berusaha menguasai Bandara Internasional Ataturk.

Setidaknya 265 orang tewas dalam upaya kudeta yang digagalkan dalam semalam itu, termasuk 104 pendukung kudeta. Adapun 1.440 orang terluka di ibu kota Ankara dan Istanbul.

Turki menuding Fethullah Gulen (75), ulama Turki yang menetap di AS, sebagai dalang upaya kudeta.

Gulen dahulu adalah sekutu dekat Presiden Recep Tayyip Erdogan. Keduanya berseberangan pandangan dalam beberapa tahun terakhir setelah Erdogan mencurigai Gulen akan mendongkelnya dari kekuasaan. (kompas/IH-1807). 

Subscribe to receive free email updates: